Kisah Honorer

Inilah Kisah Pak Guru Honorer Usai Mengajar Cari Kayu Bakar

Inilah Kisah Pak Guru Honorer Usai Mengajar Cari Kayu Bakar yang penuh dengan kesedihan. Kisah ini kami kutip dari situs JPNN.com edisi Minggu, 28 Juli 2019 – 17:49 WIB

Catatan: Mesya M, Jakarta

TIDAK ada dalam bayangan Sunandar, kehidupan rumah tangganya yang sudah dibangun lebih dari 20 tahun berakhir penuh kesedihan. Istri yang mendampinginya puluhan tahun dan dikaruniai dua anak, pergi meninggalkan dirinya.

Istri Sunandar pergi saat guru lulusan D2 ini telah mendapatkan tunjangan daerah sebesar Rp 900 ribu per bulan. Sunandar menjadi guru agama pada 2002. Kala itu Sunandar hanya mengikuti permintaan orangtuanya yang ingin melihat anaknya menjadi guru.

Pati memang masuk wilayah yang masih kekurangan guru. Tanpa tes yang berbelit-belit, Sunandar pun diterima menjadi guru agama.

Pria berperawakan sedang ini mengaku kaget saat menerima gaji pertamanya yang hanya Rp 75 ribu. Sebelumnya dia mendapatkan gaji Rp 75 ribu per hari sebagai buruh bangunan.

“Ya kaget, pakai seragam dan sepatu kok malah gajinya Rp 75 ribu per bulan. Mana cukup membiayai istri dan anak,” kata Sunandar kepada JPNN, Minggu (28/7).

Ingin rasanya Sunandar berhenti jadi guru. Namun, pesan orangtuanya yang selalu terngiang, seolah mengikat Sunandar untuk tetap menjadi guru honorer. Harapannya suatu saat bisa diangkat menjadi PNS.

Untuk mencukupi kebutuhan keluarga, sejak pukul 03.00, dia sudah mencari kayu bakar di hutan. Sebelum ke sekolah, kayu bakarnya dijual ke pasar. Setiap harinya Sunandar bisa mengantongi Rp 20 ribu sampai Rp 25 ribu dari hasil penjualan kayu bakar.

Begitu punya anak, uang tersebut dirasakan tidak cukup lagi. Dia pun nyambi kerja jadi kuli bangunan. Semua dilakukan Sunandar demi keluarganya.

“Kerja serabutan biar dapur tetap ngebul. Kalau andalin honor di sekolah enggak cukup,” ucapnya.

Tahun berganti tahun, gaji Sunandar pun naik. Dari Rp 75 ribu naik Rp.100 ribu, Rp 175 ribu, Rp 250 ribu sampai akhirnya tiga tahun belakangan naik jadi Rp 900 ribu per bulan. Sayangnya, uang ini makin tidak cukup karena kedua anaknya makin besar dan butuh biaya banyak.

Istri Sunandar pun memutuskan menjadi TKW di Hongkong. Meski berat hati, Sunandar akhirnya merelakan istrinya berangkat ke luar negeri. Apalagi keluarganya terjerat utang dengan bunga tinggi karena pinjam uang dari rentenir

“Anak bungsu saya waktu itu baru masuk kelas III SD. Sedangkan yang sulung sudah kerja. Istri saya nekad jadi TKW karena tidak tahan hidup susah. Apalagi saya belum juga jadi PNS,” keluhnya.

Awal-awalnya, hubungan jarak jauh antara Sunandar dan istrinya baik-baik saja. Namun, di tahun ketiga, Sunandar merasa ada sesuatu yang aneh. Sikap aneh istrinya terasa saat akhir 2018. Ketika itu istrinya kembali ke tanah air untuk menikahkan putra pertamanya.

Sunandar tanpa sengaja membaca pesan WhatsApp di ponsel istrinya. Bak petir di siang bolong, Sunandar kaget, ada pesan mesra dari seorang laki-laki kepada belahan jiwanya.

“Marah besar saya saat itu. Istri nangis-nangis dan minta ampun. Dia janji akan memutuskan hubungan dengan pacarnya itu. Saya percaya saja, makanya saya izinkan dia kembali lagi ke Hongkong,” tutur ayah dua anak ini.

Baru berapa bulan baikan, Sunandar menemukan bukti istrinya masih berhubungan dengan pacarnya. Untuk kedua kalinya istrinya minta maaf dan kembali dimaafkan Sunandar.

Sayangnya dua kali maaf tidak membuat istri Sunandar taubat. Terpisah jarak dengan keluarga membuat dia melupakan suami dan anaknya. Hubungan perselingkuhan tetap lanjut hingga Sunandar pun hilang sabar.

“Kami berantem dan saya suruh dia pilih keluarga atau pacarnya. Setelah itu dia tidak pernah mau lagi terima telepon saya. Saya kirim pesan juga tidak dibalas. Wis, dia sudah lupa keluarga,” tuturnya.

Selama tiga tahun ditinggal istrinya, Sunandar menjalankan fungsi bapak maupun ibu bagi putranya. Usai mencari kayu bakar di hutan dan menjualnya ke pasar, dia pulang untuk menyiapkan kebutuhan sekolah anaknya.

Mulai memandikan, memakaikan baju, lanjut menyiapkan sarapan. Setelah itu dia mengantar anaknya ke sekolah dan langsung mengajar.

Saking susahnya kehidupan Sunandar, dia lebih banyak “puasa” daripada makan. Makanan yang disiapkan hanya cukup untuk kedua anaknya. Sementara dia memilih tidak makan dan hanya minum air.

“Saya lebih sering enggak makan. Kalau ada acara di sekolah ya bisa makan kenyang. Hari-hari ya makan bila ada sisa dari anak-anak saya. Kalau nasi habis, ya sabar. Mana cukup sih uang penjualan kayu bakar Rp 25 ribu,” paparnya.

Sebenarnya pendapatan jadi kuli bangunan lebih besar. Sayangnya, Sunandar tidak bisa bekerja tiap hari. Dia bisa jadi kuli bangunan bila sekolah libur. Itu sebabnya untuk menyambung hidup, Sunandar berjualan kayu bakar.

Saat ini Sunandar hanya berharap bisa lulus PPPK (pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja). Sebenarnya dia sudah ikut tes PPPK 2019 tahap I tapi gagal karena tidak memenuhi passing grade.

Dia juga berharap pemerintah memerhatikan honorer K2 yang gajinya di bawah standar kelayakan hidup. Jangan sampai kisah pahitnya terjadi pada honorer K2 lainnya. Rumah tangga berantakan karena tekanan ekonomi.

Sumber
jpnn.com
Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker