Daerah

Jokowi Kaget Gaji Guru Honorer Rendah, IGI: Padahal, Itu Dibahas Setiap Saat

HNEWS – Presiden Jokowi mengaku kaget dengan gaji guru honorer yang sangat jauh dari layak. Dia baru mendapati bahwa ada guru yang gajinya hanya Rp300 ribu sebulan.

Sejumlah pihak, utamanya praktisi pendidikan pun, angkat bicara dengan ketidaktahuan orang nomor satu di republik ini. Umumnya mereka heran mengapa presiden tidak mengetahui sesuatu yang sudah sering dibahas bahkan hingga tingkat nasional itu.

Ketua Umum Ikatan Guru Indonesia (IGI), Muhammad Ramli Rahim, pun heran dengan reaksi presiden yang baru mengetahui hal itu. Menurutnya, nilai Rp300 ribu itu bukan yang terendah. Masih banyak guru honorer yang digaji dengan angka yang sangat miris.

Ramli Rahim juga menceritakan terkait Rembugnas Pendidikan dan Kebudayaan 2016 yang lalu di Sawangan. Saat penutupan, sekitar 500 kepala dinas bersama lebih dari 1000 peserta memberikan “standing ovation” dan salut dengan kegiatan tersebut.

Menghadirkan orang-orang inspiratif dan sebenarnya bisa menjadi bahan mengubah pendidikan Indonesia. Selain itu Rembuk Nasional 2016 itu sangat berbeda. Jika sebelumnya peserta hanya jadi pendengar, maka kali itu semua peserta dipaksa untuk berpikir menemukan solusi pendidikan.

Sayang sekali, Rembugnas selanjutnya kembali ke selera asal, lebih pada seremonial yang tak menghasilkan banyak hal sebagai rekomendasi cerdas dan mengakar sebagai informasi penting buat menteri dan jajarannya dan boleh saja buat dilaporkan ke Presiden.

“Saat itu saya sebagai Ketum IGI bersama Sekjen IGI hadir dan terasa betul bahwa kita semua dipaksa berpikir. Dirjen, direktur hingga Kasie tak berani pulang ke rumah atau meninggalkan tempat karena selama tiga hari, menteri mengawal kegiatan dan tak pernah meninggalkan lokasi. Beliau terlibat secara aktif mulai dari pembukaan hingga penutupan,” kata Ramli menceritakan pengalamannya bersama Anies Baswedan saat menjabat sebagai menteri pendidikan.

Kata beberapa Kadis, “dulu kita mudah kabur, menterinya hanya datang buka dan saat ditutup pun belum tentu datang. Lagian materinya begitu-begitu saja, tapi kali ini memang beda”.

Saat penutupan pagi hari, seluruh proses dan hasil sudah terpampang dalam bentuk gambar grafis yang cantik. Kapan lagi ya ada rembugnas pendidikan seperti itu?

BACA JUGA:

Mengapa? Biar presiden hadir dan tahu kalau masih banyak guru yang pendapatannya hanya ratusan ribu bahkan masih ada yang puluhan ribu, begitu banyak kabupaten/kota yang jumlah guru honorernya yang dibayar murah oleh negera lebih banyak dari Guru PNSnya.

“Mungkin saat bertemu guru-guru sekolah swasta Pak Presiden tidak tahu dan tidak percaya kalau ada guru honorer yang pendapatannya ratusan ribu. Tetapi presiden harus tahu kalau di sekolah negeri di mana tanggungjawab negara lebih besar lagi, masih banyak guru yang pendapatannya tak lebih baik dari buruh kasar harian,” ujarnya via WhatsApp, Minggu (13/1/2019).dikutip dari fajaronline.co.id.

Tetapi, jika Rembugnas, Presiden jangan hadir saat pembukaan namun hadirnya saat penutupan agar hasil yang diterima, bukan sekadar seremonial belaka, tepuk tangan, foto-foto dan saling puji lalu bubar.

Tak Perlu cari yang lama, Ibu Wahyuni, Guru Honorer SMK Negeri 5 Wajo hanya menerima honor Rp 1.140.000 per semester atau Rp190.000/bulan, setara dengan honor 2 hari kerja buruh kasar level terendah. “Padahal, sang buruh tak perlu seperti guru yang bukan hanya melaksanakan pembelajaran tetapi seorang guru bertugas merencanakan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, mengevaluasi pembelajaran, membimbing dan melatih peserta didik, melaksankan tambahan yang melekat pada pelaksanaan kegiatan pokok sesuai dengan beban kerja guru,” urai Ramli Rahim.

Soal rendahnya pendapatan guru bukan hal baru, bahkan dibahas setiap saat. “Nah, sebenarnya siapa yang salah atas ketidaktahuan Presiden Jokowi??,” tutup Ramli Rahim.

Sumber
fajaronline.co.id
Close
Close